SEMARANG. Kelurahan Plamongansari termasuk wilayah pinggiran dari kota Semarang yang berbatasan langsung dengan kota Demak, sehingga tidak heran jika nuansa pedesaan dan keagamaannya yang masih sangat terasa sekali. Hal itu menjadi keunggulan tersendiri bagi wilayah ini.
Namun begitu kesadaran warga dalam mensikapi sampah masih tergolong rendah. Hal ini bisa terlihat dari masih banyaknya sampah berserakan di pinggir sungai dan di sekitar pekarangan warga. Hal ini yang mendasari Ibu Supiati, Ibu Ana, Ibu Sudartik dan Ibu Satiyem selaku kader lingkungan di wilayah tersebut untuk bergerak dalam pengelolaan sampah.
“Kesadaran warga memang masih rendah, sehingga masih banyak sampah yang dibuang di pekarangan belakang rumah, setelah itu dibakar” tutur Ibu Supiati, Ketua Bank Sampah REHAT.
“Ini yang mendasari saya dan ibu-ibu yang lain membuat Bank Sampah dengan pendampingan dari RZ, Alhamdulillah baru berjalan 6 bulan namun sudah membuat lingkungan terlihat lebih bersih ”tambahnya.
Hari Minggu (05/04) lalu, dilakukan penimbangan sampah di Bank Sampah REHAT, kendati perkembangannya memang belum signifikan secara omset, baru dua kali penjualan dengan omset rata-rata Rp. 200.000 dengan jumlah nasabah 35 orang, namun dengan diadakannya pertemuan rutin nasabah dan warga setidaknya lambat tapi pasti akan menyadarkan lebih banyak lagi terkait dengan pengelolaan sampah.
“Terima kasih RZ atas bimbingannya, semoga dengan adanya bank sampah ini berdampak besar pada kami dan warga agar bisa istiqomah dalam menjaga kebersihan lingkungan,” pungkas Supiati di akhir pertemuan dengan fasilitator.***
Newsroom/Yosefh Firmansyah
Semarang
SEMARANG. Plamongsari is a suburban area which is located on the border of Semarang and Demak. Local people of Plamongsari live in harmony and most of them work as farmer, traditional merchant, and laborer.
However, they did not really aware on the importance of environmental preservation. Most of them many of them are accustomed to throw garbage in the river and vacant land. Therefore, Supiati, Ana, Sudartik and Satiyem initiated to support the implementation of environmental preservation through waste bank program named Rehat Waste Bank.
Rehat Waste Bank located in Pedurungan Integrated Community Development. It has been established since 2014. To introduce it and civilize environmental preserving program, the management of waste bank and some volunteers of RZ implement regular socialization of waste bank benefits to local people.
Through participating in waste bank community, the member will be introduced to the various types of waste and how to sort, manage, and sell them. In addition, they are also trained to produce valuable product by recycling waste.
Considering the benefits of waste bank program, local government also gives a full support toward the implementation of waste bank there. “Hopefully, the presence of waste bank could persuade people to be more aware toward environmental preservation,” Supiati (45), a cadre of waste bank, said. ***