DIARY EKSPEDISI BHAKTI PMK 2016 (3): PULAU MATAKUS DAN PULAU SELARU TERBITKAN RINDU

oleh | Mei 16, 2016 | News

MADIARY EKSPEDISI BHAKTI PMK 2016 (3) PULAU MATAKUS DAN PULAU SELARU TERBITKAN RINDULUKU. Senja Pulau Saumlaki, Maluku Tenggara Barat menyambut kedatangan tim Ekspedisi Bhakti PMK 2016 sore itu (10/05). Keindahan cahaya matahari sore yang terpantul di bibir pantai mengusir semua rasa mual akibat ombak besar yang mengguncang kapal sepanjang perjalanan dari Pulau Wetar menuju Saumlaki. Relawan RZ pun segera beranjak ke dek KRI BANDA ACEH untuk menikmati kehangatan matahari yang sebentar lagi akan terbenam.

Ya, Pulau Saumlaki adalah destinasi ketiga KRI BANDA ACEH. Salah satu Pulau besar di Maluku Tenggara Barat. Saumlaki sebuah kota metropolitan, tak hanya memiliki dermaga yang representatif tapi juga memiliki sebuah bandara, yaitu Bandar Udara Olilit yang dipergunakan untuk penerbangan lokal.

Pulau Saumlaki memang destinasi KRI BANDA ACEH, tapi bukanlah tujuan penyaluran tim ekspedisi. Di Saumlaki, tim ekspedisi merapatkan KRI BANDA ACEH untuk kemudian menyebrang dengan menggunakan LCU ke Pulau Matakus dan Pulau Selaru.

Setelah beristirahat semalam di dermaga Pulau Saumlaki, Tim Ekspedisi pun mulai melakukan aksi penyaluran keesokan harinya (11/05). Tujuan di hari pertama penyaluran ini adalah Pulau Matakus. Pulau Matakus merupakan pulau kecil yang berada di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pulau yang memiliki laut biru bergelombang kuat. Pulau Matakus langsung bersentuhan dengan laut Arafuru yang terkenal memiliki ombak dahsyat, karena itulah LCU yang digunakan tim ekspedisi pun sempat mengalami oleng hingga barang-barang di dalam kapal bergerak sendiri kesana kemari mengikuti gerakan kapal yang dihempas ombak. Kejadian ini membuat beberapa Relawan sempat mengalami mabuk laut. Pulau Matakus terletak agak jauh dari Dermaga Kota Saumlaki. Untuk mencapainya, Relawan RZ membutuhkan waktu dua puluh menit dengan menggunakan LCU.

Pulau Matakus merupakan salah satu destinasi wisata di Maluku Tenggara Barat, pulau ini memiliki pantai yang sangat landai dengan kedalaman 0,5 sampai 1 meter dan bisa mencapai panjang 100 meter ke arah laut. Pantai di Pulau Matakus memiliki terumbu karang yang sangat indah dan juga ikan yang berwarna-warni. Ada yang khas dari Pulau Matakus, selain mempunyai pantai dengan pasir yang putih, pulau ini juga memiliki garis biru di sepanjang pantai landainya mengelilingi hampir seluruh pulau yang akan terlihat jelas ketika kondisi sedang pasang atau ketika kita berada di ujung dermaga.

Pulau Matakus adalah pulau yang subur, ada banyak pepohonan yang tumbuh sehingga memberikan nuansa hijau. Seluruh warga di Pulau Matakus beragama Kristen dengan mata pencaharian mayoritas sebagai nelayan dan sebagian kecil lainnya bertani kacang dan kelapa. Oh ya, air kelapa di pulau Matakus terkenal sangat manis dan segar, karena itulah Relawan RZ bersama tim ekspedisi lain mencoba membuktikannya dengan meneguk air kelapa yang baru saja diambil dari pohon, dan benar saja… rasanya… segarrr dan manissss.

Saat Relawan RZ sampai di Pulau Matakus, warga sudah menunggu untuk menyambut Relawan di ujung dermaga. Warga sangat senang dengan kedatangan Relawan, apalagi datang menggunakan Kapal Perang, hehehe…. Warga menyambut dengan iring-iringan anak-anak yang saling bersorak-sorai. Warga dan anak-anak juga saling gotong royong membantu mengangkut barang-barang bantuan dari LCU.

Di Pulau Matakus ini, Relawan RZ melakukan aktivitas di SD dan SMP Satu Atap Matakus. Relawan memberikan motivasi, membagikan tempat makan dan minum, serta bermain beberapa games dengan anak-anak di sana. Anak-anak sangat antusias mengikuti berbagai permainan yang digelar, mereka tertawa lepas dan berteriak-teriak heboh. Di akhir kegiatan, Relawan mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu nasional Garuda Pancasila sambil bertepuk dan menghentakkan kaki ke tanah. Anak-anak pun bernyanyi dengan semangat dan setengah teriak-teriak 😀

Setelah bermain di sekolah, Relawan RZ berkeliling Desa Matakus membagikan Kornet Superqurban untuk membantu penambahan gizi warga. Kepala Desa Matakus yang menemui Relawan RZ sangat mengapresiasikan program Superqurban. Beliau juga berterima kasih karena sudah jauh-jauh datang ke Desa Matakus untuk memberikan bantuan.

Selepas penyaluran di Pulau Matakus, Relawan RZ pun kembali ke Dermaga Saumlaki pada sore harinya untuk mempersiapkan penyaluran hari kedua (12/05) dengan tujuan Pulau Selaru yang lokasinya lebih jauh dari Pulau Matakus, berada di pinggiran Laut Banda.

Pulau Selaru adalah destinasi terakhir tim ekspedisi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, pulau kecil di pinggiran laut Banda yang lautnya memiliki ombak-ombak besar. Pulau Selaru merupakan pulau yang subur dengan banyaknya perkebunan kelapa dan rumput laut. Walaupun demikian, mata pencaharian masyarakat di sini sebagian besar tetaplah sebagai nelayan.

Penduduk Pulau Selaru mayoritas beragama Kristen. Walaupun secara fisik penduduk di Pulau ini tampak sangar dan berkulit gelap, tapi mereka sangat ramah. Mereka menyambut Relawan RZ seperti keluarga. Saat Relawan membagikan kornet Superqurban, warga menyambutnya dengan bahagia, mereka sangat berterima kasih karena mereka sangat jarang makan daging. Maklum saja, harga daging di Pulau Selaru mahal sekali, sehingga sebagian besar warga tak sanggup membelinya. Menurut salah satu warga, bukan hanya harga daging yang mahal tapi makanan pokok seperti beras pun demikian. Harga beras di Pulau Selaru bisa 3 atau bahkan 5 kali lipat dari harga beras di Kota Surabaya. MasyaAllah…

Menjelang Ashar, saat Relawan RZ tengah makan di sebuah warung, seorang pria berperawakan Jawa menghampiri mereka.
“Mas dari Jawa ya?” sapa beliau.
“Kami dari Rumah Zakat, membawa bantuan dari Bandung. Tapi, kami bukan dari Pulau Jawa semua. Ada yang dari Sumatera juga.” Jawab salah satu Relawan RZ.

Bapak ini lalu memperkenalkan diri, namanya Mas Yanto. Beliau adalah seorang Muslim, asli Medan bermarga Siregar. Sejak tahun 1990, Mas Yanto merantau ke Jakarta dan baru sejak tahun 2012 menetap di Pulau Selaru. Mas Yanto adalah seorang ahli mesin dan perbengkelan. Ketika beliau berlayar ke Pulau Saumlaki, beliau melihat bahwa ada potensi untuk membuka usaha bengkel kapal di Pulau Selaru, karena itulah beliau memutuskan membuka usaha disini. Tak berapa lama, Mas Yanto menikah dengan warga Pulau Selaru.

Mas Yanto bercerita mengenai istri beliau. Sebelum menikah, istrinya adalah seorang nasrani. Namun, saat akan menikah, istri beliau masuk Islam.

“Istri saya memang sudah lama tertarik dengan Islam. Dia pernah kuliah S1 di Ambon. Saat kuliah, dia berteman dengan banyak muslimah. Ini membuat istri saya sering ikut pengajiannya dan jika ada mata kuliah agama, dia tetap di kelas karena ingin mendengarkan. Awalnya, dia berpikir bahwa semua agama itu sama saja, sama baiknya, namun ketika mengenal Islam, dia sadar bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna ajarannya. Sehingga akhirnya setelah mendalami cukup lama, ditambah bertemu dengan saya, dia pun membulatkan tekadnya untuk menjadi muallaf. Setelah istri saya masuk Islam, satu per satu keluarganya pun mulai memeluk Islam… Alhamdulillah…” Jelas Mas Yanto.

Penjelasan Mas Yanto membuat Relawan RZ takjub. MasyaAllah, betapa luar biasanya istri Mas Yanto ini dalam menjemput hidayah. Di pulau selaru ini, Islam memang minoritas. Akan tetapi, meski begitu, kerukunan tetap terjaga. Kebanyakan warga muslim di sini adalah orang-orang dari Pulau Buton dan para aparat kepolisian, koramil TNI AD dan TNI AL yang ditugaskan di pulau ini.

Di akhir perbincangan, Mas Yanto mengatakan bahwa dia sangat senang dengan kedatangan kami ke Pulau Selaru, apalagi ada yang berasal dari kampung halamannya, Sumatera.
“Jika ada Muslim yang datang kesini, apalagi dari Pulau Jawa dan Sumatera, saya suka merasa seperti dikunjungi saudara. Soalnya saya sendirian merantau disini.” Ungkap Mas Yanto.

Relawan RZ pun memberikan Al-Qur’an kepada Mas Yanto dan beberapa warga Muslim yang berada di dekat rumah Mas Yanto. Ketika Relawan RZ bertanya tentang Masjid atau Mushala, ternyata di Pulau Selaru ini belum ada. Selain karena Muslim yang minoritas juga karena harga bahan bangunan di Selaru sangat mahal.
“Membuat satu rumah di Pulau Selaru bisa setara dengan 3 rumah di pulau Jawa, Mas. Harga bahan bangunan disini bisa 3 kali lipat lebih mahal, harga semen saja mencapai Rp 150.000,- per sak, sementara di Pulau Jawa hanya Rp 50.000,- atau Rp 60.000,- per saknya. Muslim di sini sedikit, sehingga berat ketika kami harus patungan untuk pembangunan masjid atau mushala. Apalagi kondisi masyarakat yang kebanyakan tidak bersekolah dan prinsip hidupnya, yang penting bisa makan hari ini. Karenanya wajar kalau pertumbuhan ekonomi disini lambat.” Terang Mas Yanto.

Memang, sejak Relawan RZ tiba di pulau Selaru, Relawan selalu melihat anak-anak kecil usia sekolah sedang asyik memancing di dermaga. Padahal itu adalah hari sekolah.

Sore itu, sebelum kembali ke KRI BANDA ACEH di Saumlaki, Relawan RZ menyempatkan diri untuk bermain bersama anak-anak Pulau Selaru sekaligus mencoba memancing ala mereka. Ternyata tidak mudah memancing dengan cara anak-anak Pulau Selaru ini, berulang kali mencoba, tetap tidak dapat ikan pancingannya.

Cara memancing mereka begini, pertama-tama mereka mencari umpan berupa ikan kecil dengan menggunakan kail yang memiliki banyak mata kail. Mereka menyentakkan tali secepatnya sesaat setelah kail dimasukkan ke dalam air, hal itu membuat ikan-ikan kecil yang sedang bergerombol di laut dangkal tersangkut pada kail. Setelah mendapat ikan kecil, mereka mulai memancing dengan umpan ikan kecil tadi. Mereka juga tidak menggunakan joran saat memancing, mereka hanya menggunakan tali pancing dan bambu untuk menggulung talinya. Subhanallah, meski dengan peralatan sederhana seperti itu, anak-anak ini bisa mendapatkan ikan yang besar.

Keceriaan tak lepas dari wajah anak-anak Pulau Selaru saat memancing. Namanya juga anak-anak, mereka hidup untuk bermain tanpa merasa memiliki masalah hidup. Tapi jauh di sana, masa depan telah menanti anak-anak usia sekolah ini dengan berbagai tantangan yang bisa jadi lebih berat dari yang dihadapi orang tuanya saat ini. Jika mereka tetap seperti sekarang, tidak belajar, tidak sekolah, dan asyik memancing seperti itu, maka bangsa ini mungkin hanya akan memiliki generasi penerus yang pandai memancing dengan seutas tali. Tapi jika mereka sekolah, mempelajari banyak hal, bisa jadi mereka bisa memancing ikan dengan cara yang lebih canggih dan ramah lingkungan. Why not? Pulau Selaru memiliki banyak potensi alam yang hanya bisa dioptimalkan jika memiliki ilmu.

Relawan RZ pun kembali ke Dermaga Saumlaki untuk bersiap ke destinasi terakhir Ekespedisi Bhakti PMK 2016, yaitu Pulau Kaimana di Papua.

“Pulau Matakus dan Pulau Selaru ngangenin banget. Baru beberapa jam berlayar meninggalkan Pulau Saumlaki, sudah terasa rindu lagi. Rindu dengan keceriaan anak-anak disana. Rasanya ingin kembali kesana, berbagi ilmu lebih banyak dan lebih lama, agar pikiran mereka terbuka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Negara ini, seberapa kaya pun potensinya, tak akan menjadi apa-apa, jika generasi penerusnya tak berilmu.” Tulis Fajri, Relawan RZ dalam diary-nya dalam perjalanan menuju Pulau Kaimana.

Newsroom/Ria Arianti
MalukuMALUKU. Senja Pulau Saumlaki, Maluku Tenggara Barat menyambut kedatangan tim Ekspedisi Bhakti PMK 2016 sore itu (10/05). Keindahan cahaya matahari sore yang terpantul di bibir pantai mengusir semua rasa mual akibat ombak besar yang mengguncang kapal sepanjang perjalanan dari Pulau Wetar menuju Saumlaki. Relawan RZ pun segera beranjak ke dek KRI BANDA ACEH untuk menikmati kehangatan matahari yang sebentar lagi akan terbenam.

Ya, Pulau Saumlaki adalah destinasi ketiga KRI BANDA ACEH. Salah satu Pulau besar di Maluku Tenggara Barat. Saumlaki sebuah kota metropolitan, tak hanya memiliki dermaga yang representatif tapi juga memiliki sebuah bandara, yaitu Bandar Udara Olilit yang dipergunakan untuk penerbangan lokal.

Pulau Saumlaki memang destinasi KRI BANDA ACEH, tapi bukanlah tujuan penyaluran tim ekspedisi. Di Saumlaki, tim ekspedisi merapatkan KRI BANDA ACEH untuk kemudian menyebrang dengan menggunakan LCU ke Pulau Matakus dan Pulau Selaru.

Setelah beristirahat semalam di dermaga Pulau Saumlaki, Tim Ekspedisi pun mulai melakukan aksi penyaluran keesokan harinya (11/05). Tujuan di hari pertama penyaluran ini adalah Pulau Matakus. Pulau Matakus merupakan pulau kecil yang berada di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pulau yang memiliki laut biru bergelombang kuat. Pulau Matakus langsung bersentuhan dengan laut Arafuru yang terkenal memiliki ombak dahsyat, karena itulah LCU yang digunakan tim ekspedisi pun sempat mengalami oleng hingga barang-barang di dalam kapal bergerak sendiri kesana kemari mengikuti gerakan kapal yang dihempas ombak. Kejadian ini membuat beberapa Relawan sempat mengalami mabuk laut. Pulau Matakus terletak agak jauh dari Dermaga Kota Saumlaki. Untuk mencapainya, Relawan RZ membutuhkan waktu dua puluh menit dengan menggunakan LCU.

Pulau Matakus merupakan salah satu destinasi wisata di Maluku Tenggara Barat, pulau ini memiliki pantai yang sangat landai dengan kedalaman 0,5 sampai 1 meter dan bisa mencapai panjang 100 meter ke arah laut. Pantai di Pulau Matakus memiliki terumbu karang yang sangat indah dan juga ikan yang berwarna-warni. Ada yang khas dari Pulau Matakus, selain mempunyai pantai dengan pasir yang putih, pulau ini juga memiliki garis biru di sepanjang pantai landainya mengelilingi hampir seluruh pulau yang akan terlihat jelas ketika kondisi sedang pasang atau ketika kita berada di ujung dermaga.

Pulau Matakus adalah pulau yang subur, ada banyak pepohonan yang tumbuh sehingga memberikan nuansa hijau. Seluruh warga di Pulau Matakus beragama Kristen dengan mata pencaharian mayoritas sebagai nelayan dan sebagian kecil lainnya bertani kacang dan kelapa. Oh ya, air kelapa di pulau Matakus terkenal sangat manis dan segar, karena itulah Relawan RZ bersama tim ekspedisi lain mencoba membuktikannya dengan meneguk air kelapa yang baru saja diambil dari pohon, dan benar saja… rasanya… segarrr dan manissss.

Saat Relawan RZ sampai di Pulau Matakus, warga sudah menunggu untuk menyambut Relawan di ujung dermaga. Warga sangat senang dengan kedatangan Relawan, apalagi datang menggunakan Kapal Perang, hehehe…. Warga menyambut dengan iring-iringan anak-anak yang saling bersorak-sorai. Warga dan anak-anak juga saling gotong royong membantu mengangkut barang-barang bantuan dari LCU.

Di Pulau Matakus ini, Relawan RZ melakukan aktivitas di SD dan SMP Satu Atap Matakus. Relawan memberikan motivasi, membagikan tempat makan dan minum, serta bermain beberapa games dengan anak-anak di sana. Anak-anak sangat antusias mengikuti berbagai permainan yang digelar, mereka tertawa lepas dan berteriak-teriak heboh. Di akhir kegiatan, Relawan mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu nasional Garuda Pancasila sambil bertepuk dan menghentakkan kaki ke tanah. Anak-anak pun bernyanyi dengan semangat dan setengah teriak-teriak 😀

Setelah bermain di sekolah, Relawan RZ berkeliling Desa Matakus membagikan Kornet Superqurban untuk membantu penambahan gizi warga. Kepala Desa Matakus yang menemui Relawan RZ sangat mengapresiasikan program Superqurban. Beliau juga berterima kasih karena sudah jauh-jauh datang ke Desa Matakus untuk memberikan bantuan.

Selepas penyaluran di Pulau Matakus, Relawan RZ pun kembali ke Dermaga Saumlaki pada sore harinya untuk mempersiapkan penyaluran hari kedua (12/05) dengan tujuan Pulau Selaru yang lokasinya lebih jauh dari Pulau Matakus, berada di pinggiran Laut Banda.

Pulau Selaru adalah destinasi terakhir tim ekspedisi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, pulau kecil di pinggiran laut Banda yang lautnya memiliki ombak-ombak besar. Pulau Selaru merupakan pulau yang subur dengan banyaknya perkebunan kelapa dan rumput laut. Walaupun demikian, mata pencaharian masyarakat di sini sebagian besar tetaplah sebagai nelayan.

Penduduk Pulau Selaru mayoritas beragama Kristen. Walaupun secara fisik penduduk di Pulau ini tampak sangar dan berkulit gelap, tapi mereka sangat ramah. Mereka menyambut Relawan RZ seperti keluarga. Saat Relawan membagikan kornet Superqurban, warga menyambutnya dengan bahagia, mereka sangat berterima kasih karena mereka sangat jarang makan daging. Maklum saja, harga daging di Pulau Selaru mahal sekali, sehingga sebagian besar warga tak sanggup membelinya. Menurut salah satu warga, bukan hanya harga daging yang mahal tapi makanan pokok seperti beras pun demikian. Harga beras di Pulau Selaru bisa 3 atau bahkan 5 kali lipat dari harga beras di Kota Surabaya. MasyaAllah…

Menjelang Ashar, saat Relawan RZ tengah makan di sebuah warung, seorang pria berperawakan Jawa menghampiri mereka.
“Mas dari Jawa ya?” sapa beliau.
“Kami dari Rumah Zakat, membawa bantuan dari Bandung. Tapi, kami bukan dari Pulau Jawa semua. Ada yang dari Sumatera juga.” Jawab salah satu Relawan RZ.

Bapak ini lalu memperkenalkan diri, namanya Mas Yanto. Beliau adalah seorang Muslim, asli Medan bermarga Siregar. Sejak tahun 1990, Mas Yanto merantau ke Jakarta dan baru sejak tahun 2012 menetap di Pulau Selaru. Mas Yanto adalah seorang ahli mesin dan perbengkelan. Ketika beliau berlayar ke Pulau Saumlaki, beliau melihat bahwa ada potensi untuk membuka usaha bengkel kapal di Pulau Selaru, karena itulah beliau memutuskan membuka usaha disini. Tak berapa lama, Mas Yanto menikah dengan warga Pulau Selaru.

Mas Yanto bercerita mengenai istri beliau. Sebelum menikah, istrinya adalah seorang nasrani. Namun, saat akan menikah, istri beliau masuk Islam.

“Istri saya memang sudah lama tertarik dengan Islam. Dia pernah kuliah S1 di Ambon. Saat kuliah, dia berteman dengan banyak muslimah. Ini membuat istri saya sering ikut pengajiannya dan jika ada mata kuliah agama, dia tetap di kelas karena ingin mendengarkan. Awalnya, dia berpikir bahwa semua agama itu sama saja, sama baiknya, namun ketika mengenal Islam, dia sadar bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna ajarannya. Sehingga akhirnya setelah mendalami cukup lama, ditambah bertemu dengan saya, dia pun membulatkan tekadnya untuk menjadi muallaf. Setelah istri saya masuk Islam, satu per satu keluarganya pun mulai memeluk Islam… Alhamdulillah…” Jelas Mas Yanto.

Penjelasan Mas Yanto membuat Relawan RZ takjub. MasyaAllah, betapa luar biasanya istri Mas Yanto ini dalam menjemput hidayah. Di pulau selaru ini, Islam memang minoritas. Akan tetapi, meski begitu, kerukunan tetap terjaga. Kebanyakan warga muslim di sini adalah orang-orang dari Pulau Buton dan para aparat kepolisian, koramil TNI AD dan TNI AL yang ditugaskan di pulau ini.

Di akhir perbincangan, Mas Yanto mengatakan bahwa dia sangat senang dengan kedatangan kami ke Pulau Selaru, apalagi ada yang berasal dari kampung halamannya, Sumatera.
“Jika ada Muslim yang datang kesini, apalagi dari Pulau Jawa dan Sumatera, saya suka merasa seperti dikunjungi saudara. Soalnya saya sendirian merantau disini.” Ungkap Mas Yanto.

Relawan RZ pun memberikan Al-Qur’an kepada Mas Yanto dan beberapa warga Muslim yang berada di dekat rumah Mas Yanto. Ketika Relawan RZ bertanya tentang Masjid atau Mushala, ternyata di Pulau Selaru ini belum ada. Selain karena Muslim yang minoritas juga karena harga bahan bangunan di Selaru sangat mahal.
“Membuat satu rumah di Pulau Selaru bisa setara dengan 3 rumah di pulau Jawa, Mas. Harga bahan bangunan disini bisa 3 kali lipat lebih mahal, harga semen saja mencapai Rp 150.000,- per sak, sementara di Pulau Jawa hanya Rp 50.000,- atau Rp 60.000,- per saknya. Muslim di sini sedikit, sehingga berat ketika kami harus patungan untuk pembangunan masjid atau mushala. Apalagi kondisi masyarakat yang kebanyakan tidak bersekolah dan prinsip hidupnya, yang penting bisa makan hari ini. Karenanya wajar kalau pertumbuhan ekonomi disini lambat.” Terang Mas Yanto.

Memang, sejak Relawan RZ tiba di pulau Selaru, Relawan selalu melihat anak-anak kecil usia sekolah sedang asyik memancing di dermaga. Padahal itu adalah hari sekolah.

Sore itu, sebelum kembali ke KRI BANDA ACEH di Saumlaki, Relawan RZ menyempatkan diri untuk bermain bersama anak-anak Pulau Selaru sekaligus mencoba memancing ala mereka. Ternyata tidak mudah memancing dengan cara anak-anak Pulau Selaru ini, berulang kali mencoba, tetap tidak dapat ikan pancingannya.

Cara memancing mereka begini, pertama-tama mereka mencari umpan berupa ikan kecil dengan menggunakan kail yang memiliki banyak mata kail. Mereka menyentakkan tali secepatnya sesaat setelah kail dimasukkan ke dalam air, hal itu membuat ikan-ikan kecil yang sedang bergerombol di laut dangkal tersangkut pada kail. Setelah mendapat ikan kecil, mereka mulai memancing dengan umpan ikan kecil tadi. Mereka juga tidak menggunakan joran saat memancing, mereka hanya menggunakan tali pancing dan bambu untuk menggulung talinya. Subhanallah, meski dengan peralatan sederhana seperti itu, anak-anak ini bisa mendapatkan ikan yang besar.

Keceriaan tak lepas dari wajah anak-anak Pulau Selaru saat memancing. Namanya juga anak-anak, mereka hidup untuk bermain tanpa merasa memiliki masalah hidup. Tapi jauh di sana, masa depan telah menanti anak-anak usia sekolah ini dengan berbagai tantangan yang bisa jadi lebih berat dari yang dihadapi orang tuanya saat ini. Jika mereka tetap seperti sekarang, tidak belajar, tidak sekolah, dan asyik memancing seperti itu, maka bangsa ini mungkin hanya akan memiliki generasi penerus yang pandai memancing dengan seutas tali. Tapi jika mereka sekolah, mempelajari banyak hal, bisa jadi mereka bisa memancing ikan dengan cara yang lebih canggih dan ramah lingkungan. Why not? Pulau Selaru memiliki banyak potensi alam yang hanya bisa dioptimalkan jika memiliki ilmu.

Relawan RZ pun kembali ke Dermaga Saumlaki untuk bersiap ke destinasi terakhir Ekespedisi Bhakti PMK 2016, yaitu Pulau Kaimana di Papua.

“Pulau Matakus dan Pulau Selaru ngangenin banget. Baru beberapa jam berlayar meninggalkan Pulau Saumlaki, sudah terasa rindu lagi. Rindu dengan keceriaan anak-anak disana. Rasanya ingin kembali kesana, berbagi ilmu lebih banyak dan lebih lama, agar pikiran mereka terbuka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Negara ini, seberapa kaya pun potensinya, tak akan menjadi apa-apa, jika generasi penerusnya tak berilmu.” Tulis Fajri, Relawan RZ dalam diary-nya dalam perjalanan menuju Pulau Kaimana.

 

 

Newsroom/Ria Arianti
Maluku